Budget Marketing dan Neuro Marketing

Ratusan juta rupiah dibenamkan oleh perusahaan-perusahaan untuk memasarkan produk dan jasa mereka. Faktanya hanya 1 dari 9 merek baru yang sukses memasuki pasar, dengan menggunakan pendekatan marketing yang ada sekarang. Apakah riset pemasaran Anda sudah benar-benar meneliti bagian mana dari pikiran seorang calon customer yang mengambil keputusan, bagaimana ia mengambil keputusan, dan bagaimana pengaruh iklan pada pikiran, emosi dan keputusan pembelian mereka?

Kesamaan marketer dan para neuro-scientist adalah sama-sama memiliki mimpi untuk mampu mengintip ke dalam otak manusia, sehingga mampu mengetahui bagaimana tepatnya proses yang ada di dalamnya.

Dalam dunia science, berbagai teknologi pemindaian otak sudah diciptakan, perangkat-perangkat perekam jejak gelombang otak, percobaan-percobaan untuk mengetahui pengaruh suatu hal terhadap kerja otak juga sudah banyak sekali dilakukan. Alat-alat semacam fMRI, EEG, pupilometers, galvanic skin response, eye tracking, voicestress analysis, dll, digunakan untuk menguak bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi dalam otak manusia.

Sementara itu, para marketer sekalipun masih menggunakan cara lama, berbekal angket, focus group discussion, dan interview juga berjuang ingin mengetahui proses yang terjadi di otak customer. Demi memetakan kecenderungan manusia dalam pembelian, marketer memilah-milah manusia berdasarkan berbagai cara. Mulai dari cara geografis, demografis, psikografis dan behavior. Semuanya untuk mengetahui kepentingan: mengintip preferensi customer pada suatu merek, merancang pesan yang efektif dan direspon kuat oleh customer, bagaimana sesungguhnya pemicu pengamabil keputusan pembelian, dan sebagainya.

Apa yang terjadi ketika dua disiplin itu bertemu dalam satu kepentingan? Tentunya merupakan suatu hal yang amat mengesankan, menggunakan berbagai teknologi neuro-science untuk mengetahui bagaimana otak manusia merespon suatu iklan, suatu selling situation dan bagaimana pengambilan keputusan yang mereka ambil? Penggunaan berbagai perangkat inilah yang kini disebut sebagai neuromarketing’.

Neuromarketing adalah ketika dunia science bertemu dengan dunia marketing.

Sebagai lembaga pertama di Indonesia yang menguasai disiplin neuromarketing, kami mengetahui bahwa mahal sekali bagi suatu perusahaan untuk menginvest penelitian menggunakan berbagai perangkat modern itu. Maka kami sudah melakukan berbagai study untuk memanfaatkan berbagai temuan berdasar science itu dalam suatu model neuromarketing tanpa harus investasi terlalu mahal pada alat-alat canggih itu.

Model ini sudah teruji dengan baik, menggabungkan disiplin: neuroscience, psychology, social persuasion, marketing, NLP dan subconscious programming. Perusahaan-perusahaan besar di dunia barat yang memulai penggunaan neuromarketing ini sejak awal, benar-benar mendapatkan marketing advantage, apakah Anda ingin jadi perusahaan awal di Indonesia yang menggunakan neuromarketing, atau Anda akan ditinggalkan oleh kompetitor saat mereka memutuskan lebih dulu.

Pelajari apa itu neuromarketing di web ini, sebelum Anda putuskan untuk gunakan services dari kami untuk meningkatkan secara luar biasa performance marketing perusahaan Anda.